Thursday, December 11, 2008

Jangan Benci Aku, Mama..

Kemaren chie dapet email forwardan dari temen.. Yaa.. biasalah.. email2 forward berantai.. Kali ini chieritanya bener2 menyentuh, menohok, menusuk hati, sampai menitikkan air mata.. Sebuah chierita ttg pelajaran hidup..

Baca dehh.. Ga akan nyesel..!!http://emo.huhiho.com

Chie copas nih chieritanya..


"Ukuran Tertinggi dari seseorang bukanlah dimana ia berdiri di masa-masa nyaman serta menyenangkan,
melainkan dimana ia berdiri di masa-masa penuh tantangan serta kontroversi "


- Martin Luther King Jr -


JANGAN BENCI AKU MAMA.... (So sad....)

> Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya
> lumayan tampan namun terlihat agak bodoh.
> Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa
> anak ini memang agak terbelakang. Saya
> berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau
> pelayan.
> Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga.
> Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan
> saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya
> menamainya Angelica. Saya sangat
> menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke
> taman hiburan dan membelikannya pakaian
> anak-anak yang indah-indah. Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya
> memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya
> selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti
> perkataan saya.
>
> Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala
> itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk.
> Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup.
> Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang
> sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja.
> Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk
> membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10
> tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.
>
> Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan
> kami telah menginjak tahun kelima. Berkat
> Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati,
> berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar
> dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di
> asrama putri sekolah perawatan. Tidak
> ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.
>
> Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya
> agak tampan namun tampak pucat sekali.
> Ia melihat ke arah saya. Sambil tersenyum ia berkata,
> "Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada Mommy!"
> Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya,
> "Tunggu..., sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?"
> "Nama saya Elic, Tante."
> "Eric? Eric... Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?"
>
> Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan
> aneh lainnya menerpa diri saya saat itu
> juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah
> film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya
> perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus
> mati..., mati..., mati...
>
> Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan
> tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric,
> Mommy akan menjemputmu Eric...
>
> Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan
> pandangan heran menatap saya dari
> samping. "Mary, apa yang sebenarnya terjadi?"
> "Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang
> telah saya lakukan dulu." tTpi aku menceritakannya
> juga dengan terisak-isak. ..
> Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu
> baik dan penuh pengertian. Setelah tangis
> saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap
> lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai
> teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan
> Eric..
>
> Eric...
> Sya meninggalkan Eric di sana
> 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk
> tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali...Tidak
> terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan
> dalam ruangan kecil itu. Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya
> ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya
> mengamatinya dengan seksama... Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan
> kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya.
> ..
>
> Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun keluar
> dari ruangan itu ...
> Air mata saya mengalir
> dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad
> mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat
> seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu
> gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor.
> Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia
> tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.
>
> "Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!"
> Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal dengan
> seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?" Ia menjawab,
> "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10
> tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya
> dan memanggil, 'Mommy..., mommy!' Karena tidak tega, saya terkadang mberinya
> makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan
> hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak
> saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia
> belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini
> untukmu..."
>
> Saya pun membaca tulisan di kertas itu... "Mommy, mengapa Mommy tidak
> pernah kembali lagi...? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi
> saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric.
> Bye, Mom..." Saya menjerit histeris membaca
> surat itu. "Bu, tolong katakan...
> katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya
> tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!"
>
> Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras. "Nyonya, semua sudah
> terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia
> meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya
> demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke
> dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila
> melihatnya ada di dalam sana
> ... Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini...
> Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu
> Nyonya di sana
> . Nyonya,dosa anda tidak terampuni!"
>
> Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi. ( kisah nyata dari
> Irlandia Utara )
>
>
> May Your Day as beautiful as My Day
> Thank You.....
> God Bless U....


Huhuhuu.. Sedih banget.. Chie baca tuk yg kedua kalinya.. tetep aja nih air mata ga bisa ditahan..http://emo.huhiho.com



Pelajaran hidup kali ini :

  • Penyesalan emang selalu datang terlambat.. Soo.. sebelum kita akhirnya menyesal, sebaiknya kita melihat diri kita.. Apa yg telah kita lakukan kemarin, apa yg kita lakukan saat ini, apa yg akan kita lakukan besok, apakah sesuatu yg baik, atau sesuatu yg hanya akan membuahkan suatu penyesalan?? Perbaiki diri sebelum terlambat..
  • Sayangi keluarga kita, teman2 kita, sahabat2 kita, orang2 sekitar kita, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.. Jangan pilih2, jangan beda2in kasih sayang kita ama mereka..



13 comments:

  1. cerita yang masih terjadi di jaman sekarang

    ReplyDelete
  2. weleeeeehhh....
    nyata beneran eta teh...???

    ReplyDelete
  3. @brainhunter : iya nii.. masih banyak orang tua yg ninggalin anaknya gitu aja..

    @Do The Evolution : iya tuh kang.. kenyataan.. ada keterangannya kan dibawahnya..

    ---------------------------------------

    Oia.. tambahan pelajaran hidupnya.. :
    Kita, orang2 yg beruntung, memiliki keluarga yg sayang sama kita.. Yaa.. Harus banyak2 bersyukur.. :D

    ---------------------------------------

    ReplyDelete
  4. penyesalan pasti datang nya terlambat..
    jadi kangen bunda nih..

    ReplyDelete
  5. huahuahua... jaat skali mommy nya... T.T iya c msh byk loh ortu yg ga trima klo pnya anak yg kekurangan.. ^^

    ReplyDelete
  6. @3w1nk : huhuu.. telpon atuh bundanya.. :)

    @Just_Q : iya tuh.. padahal kan anak sndiri..

    ReplyDelete
  7. chie,, ikutan nangis boleh yaa..

    akan diingat plajaran dari bu guru uchie,,

    ReplyDelete
  8. Asli loh!!
    Gw merinding!ahahahaha.....

    ReplyDelete
  9. @ajfly : silahkan.. silahkan.. menangislah.. wah kok dipanggil bu guru.. hohohooo

    @Khairil : ....

    @BeruangGila : houhouhouuu.. emang sii.. chie juga merinding..

    @Bani Biasa : huhuu.. iya nih.. kalo dibuat cerita sinetron kayakny bakalan banyak penontonny deh.. huehehe..

    ReplyDelete
  10. waahahaha
    *sob*
    sedih banget
    kisah nya sedih tapi seru





    by akihikosanada 13

    ReplyDelete
  11. @anonym : iya nih.. hiks.. hiks.. kok ga pake nama sii?? kan chie jadi ga tau ini yg kommen sapa..

    ReplyDelete

Quchie

Chierita

Belanja belanji

Belanja belanji
Click to shop!

Chiet-chat

Chwiet-chwiet

Followchie